Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2012

Di tengah rasa suka cita rakyat Gaza dan faksi perjuangan Palestina yang dimotori oleh Hamas dan Jihad Islam atas kemenangan dan poin-poin perjanjian gencatan senjata yang telah dicapai, ternyata tidak sedikit yang menyampaikan kritik atas hal tersebut. Di Indonesia, salah satunya sikap kritis itu dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL seperti Zuhari Miswari.
 
Berita tentang sikap Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL itu bisa dilihat di sini:
1. http://news.fimadani.com/read/2012/11/23/kader-jil-dan-hti-kritisi-kemenangan-rakyat-gaza/
2. http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/21/menolong-gaza-bukan-dengan-mediasi-dan-delegasi-bela-sungkawa/
 
Untuk menjawab sikap yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL tersebut, bisa kita lihat dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh Ibnu Abbas R.A dengan Khawarij pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib R.A
 
Selamat membaca 🙂

Perdebatan Ibnu Abbas dengan Khawarij di Harura1

 Para ulama mendefinisikan Khawarij dengan beberapa pengertian, salah satunya dikemukakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ary bahwa sebutan Khawarij disematkan terhadap kelompok yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib R.A, khalifah keempat di antara Khulafaur Rasyidin. Abul Hasan Al-Asy’ari menjelaskan bahwa keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali R.A merupakan alasan penamaan ini; ia berkata, “Faktor yang menyebabkan orang-orang menyebut mereka Khawarij adalah keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali tatkala ia mengambil kebijakan At-Tahkim (arbitrase dengan pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin)2.

Khawarij melepaskan diri dari pasukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A dalam jumlah besar, sekembalinya mereka dari perang Shiffin menuju Kufah. Dalam sebuah riwayat, jumlah mereka diperkirakan mencapai belasan ribu orang, dan dalam riwayat lain disebutkan dua belas ribu orang3. Ada juga riwayat yang menyatakan delapan ribu orang4, dan ada pula yang menyatakn empat belas ribu orang5.

Mereka membelot dari pasukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A beberapa kilometer sebelum  sampai ke Kufah. Pembelotan ini menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan luar biasa di kalangan pasukan Amirul Mukminin. Akan tetapi Amirul Mukminin tetap menggerakkan pasukannya yang masih setia hingga memasuki Kuffah. Amirul Mukminin benar-benar disibukkan Khawarij, terlebih lagi setelah mengetahui mereka merapatkan barisan dan membangun sistem politik dengan mengangkat seorang imam shalat dan seorang panglima perang, dan menyatakan bahwa baiat (sumpah setia) hanyalah kepada Allah serta kewajiban menyuruh orang berbuat baik dan melarang orang berbuat mungkar. Itu semua mengindikasikan bahwa mereka benar-benar memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin.

Meskipun demikian, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A senantiasa berupaya agar mereka kembali pada kebenaran dan bergabung lagi dengan jamaah kaum Muslimin. Untuk itulah, ia mendelegasikan Ibnu Abbas R.A untuk berdialog dengan mereka dan memberi mereka pencerahan. Ibnu Abbas R.A mengisahkannya kepada kita:

Aku berangkat untuk berdialog dengan mereka (Khawarij) sambil mengenakan pakaian terbaik dari Yaman. Turun dari kendaraan, aku berjalan kaki dan menemui mereka pada tengah hari di sebuah rumah. (Ibnu Abbas R.A. adalah lelaki yang tampan rupawan).

Khawarij: Selamat datang, wahai Ibnu Abbas. Pakaian apa itu?

Ibnu Abbas: Memangnya kenapa? Apakah kalian mencelaku? Aku benar-benar melihat Rasulullah SAW mengenakan pakaian yang paling bagus. Lagi pula, telah turun firman Allah: Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” (Al-A’raf: 32).

Khawarij: Baiklah, angin apa yang membawamu kemari?

Ibnu Abbas: Aku menemui kalian sebagai utusan para Sahabat Rasulullah, baik kaum Muhajirin maupun Anshar, juga utusan sepupu Rasulullah SAW sekaligus menantunya (Ali R.A). Adalah kepada mereka Al-Qur’an diturunkan; merekalah yang lebih mengetahui penafsirannya dibandingkan kalian; tidak seorangpun di antara kalian yang merupakan bagian dari mereka untuk kusampaikan kepada kalian pendapat mereka, dan kusampaikan kepada mereka pendapat kalian.

Sampai di sini,  sekelompok orang di antara mereka cenderung kepadaku.

Ibnu Abbas: Utarakanlah kepadaku alasan kalian membenci para sahabat Rasulullah SAW dan sepupunya Ali R.A.

Khawarij: Ada tiga alasan. Pertama, ia (Ali R.A) telah menyerahkan keputusan hukum kepada para tokoh ihwal agama Allah, padahal Allah SWT berfirman, “Menetapkan hukum itu hanya hak Allah.” (Al-An’am: 57). Apalah wewenang orang-orang itu terhadap keputusan hukum?”

Ibnu Abbas: Baiklah. Itu satu.

Khawarij: Kedua, ia berperang (dalam Perang Jamal) akan tetapi tidak  mengambil tawanan perang ataupun pampasan perang. Kalau mereka itu orang-orang kafir, tentulah mereka boleh dijadikan tawanan. Kalau mereka itu orang-orang Mukmin, tentulah tidak boleh ditawan ataupun dibunuh.

Ibnu Abbas: Itu baru dua.

Khawarij: Ketiga, ia telah menghapus jabatannya sebagai Amirul Mukminin (dalam dokumen perdamaian); jika ia bukan Amirul Mukminin, berarti ia Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).

Ibnu Abbas: Apakah ada alasan selain ketiga hal itu?

Khawarij: Cukuplah tiga hal itu bagi kami.

Ibnu Abbas: Menurut kalian, apabila kubacakan dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang membantah pendapat kalian, apakah kalian mau bertaubat dan kembali pada jalan yang benar?

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan keputusan hukum ihwal agama Allah yang diserahkan kepada para tokoh, aku membacakan ayat dari Kitabullah bahwa Allah SWT menyerahkan keputusan hukum-Nya kepada para tokoh ihwal barang seharga seperempat dirham. Allah SWT memerintahkan mereka untuk memutuskan hukum dalam hal itu. Tidakkah kalian mengetahui firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah bunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.” (Al-Ma’idah:95)

Ibnu Abbas: Nah, itu termasuk hukum yang diputuskan para tokoh. Aku bersumpah demi Allah agar kalian menjawab, bukankah keputusan para tokoh ihwal perdamaian dan perlindungan darah kaum Muslimin jauh lebuh utama daripada perlindungan darah seekor kelinci?

Khawarij: Betul, itu lebih utama.

Ibnu Abbas: Juga, ihwal istri dan suaminya. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.” (An-Nisa’: 35)

Ibnu Abbas: Aku bersumpah demi Allah agar kalian menjawab, bukankah keputusan hukum para tokoh ihwal perdamaian dan perlindungan darah kaum Muslimin jauh lebih utama daripada keputusan hukum mereka ihwal talak seorang istri? Apakah aku sudah membantah alasan ini?

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan berperangnya ia (Ali R.A dalam perang Jamal) tanpa mengambil tawanan perang ataupun pampasan perang, apakah kalian hendak menjadikan ibunda kalian Aisyah R.A sebagai tawanan perang, lantas kalian menghalalkan darinya apa yang kalian halalkan dari orang lain, padahal ia adalah ibunda kalian? Jika kalian menjawab, “Kami menghalalkan darinya sebagaimana yang kami halalkan dari selainnya”, berarti kalian telah kafir. Jika kalian menjawab, “Ia bukanlah ibunda kami”, berarti kalian juga telah kafir. Allah berfirman: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” Nah, kalian berada di antara dua kesesatan, maka berilah suatu jalan keluar dari kesesatan itu. Apakah aku sudah membantah alasan ini.

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan penghapusan jabatannya sebagai Amirul Mukminin (dalam dokumen perdamaian), kuberikan kalian dalil yang membantah kalian, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW berdamai dengan orang-orang musyrik dalam perjanjian Hudaibiyah, beliau memerintahkan Ali, “Wahai Ali,  tulislah: Inilah perjanjian damai yang disepakati Muhammad utusan Allah”. Lantas orang-orang musyrik itu menukas, “Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah, tentulah kami tidak memerangimu.” Maka, Rasulullah SAW memerintahkan, “Hapuslah wahai Ali. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku ini benar-benar utusan Allah. Hapuslah wahai Ali, dan tulislah: Inilah perjanjian damai yang disepakati Muhammad putera Abdullah.” Demi Allah, Rasulullah SAW jauh lebih baik dari Ali, tetapi beliau menghapus dirinya sendiri (kata utusan Allah dalam dokumen perdamaian). Nah, penghapusan yang dilakukannya itu bukan berarti penghapusan status kenabian. Apakah aku sudah membantah alasan ini?

Khawarij: Ya.

Setelah dialog tersebut, sebanyak dua ribu orang di antara mereka kembali ke jalan yang benar, sedangkan yang lain tetap berperang berdasarkan kesesatan mereka. Akhirnya mereka ditumpas kaum Muhajirin dan Anshar6.

[1] Khawarij dan Syiah Dalam Timbangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Pustaka Al-kautsar, 2012.

[2] Maqalat Al-Islamiyyin, 1/207.

[3] Tarikh Baghdad, 1/160.

[4] Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/280/281, dan sanad hadits ini shahih. Lihat Majma’ Az-zawaid, 6/235.

[5] Mushannaf Abdurrazzaq, 10/157 dan 160, dengan sanad hasan.

[6] Khasha’ish Amir Al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib R.A, karya An-Nasa’i, tahqiq Ahmad Al-Balusyi, hlm. 200, dengan sanad hasan.

Read Full Post »