Feeds:
Posts
Comments
Di tengah rasa suka cita rakyat Gaza dan faksi perjuangan Palestina yang dimotori oleh Hamas dan Jihad Islam atas kemenangan dan poin-poin perjanjian gencatan senjata yang telah dicapai, ternyata tidak sedikit yang menyampaikan kritik atas hal tersebut. Di Indonesia, salah satunya sikap kritis itu dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL seperti Zuhari Miswari.
 
Berita tentang sikap Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL itu bisa dilihat di sini:
1. http://news.fimadani.com/read/2012/11/23/kader-jil-dan-hti-kritisi-kemenangan-rakyat-gaza/
2. http://hizbut-tahrir.or.id/2012/11/21/menolong-gaza-bukan-dengan-mediasi-dan-delegasi-bela-sungkawa/
 
Untuk menjawab sikap yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan beberapa tokoh JIL tersebut, bisa kita lihat dari jawaban-jawaban yang diberikan oleh Ibnu Abbas R.A dengan Khawarij pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib R.A
 
Selamat membaca :)

Perdebatan Ibnu Abbas dengan Khawarij di Harura1

 Para ulama mendefinisikan Khawarij dengan beberapa pengertian, salah satunya dikemukakan oleh Abul Hasan Al-Asy’ary bahwa sebutan Khawarij disematkan terhadap kelompok yang memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib R.A, khalifah keempat di antara Khulafaur Rasyidin. Abul Hasan Al-Asy’ari menjelaskan bahwa keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali R.A merupakan alasan penamaan ini; ia berkata, “Faktor yang menyebabkan orang-orang menyebut mereka Khawarij adalah keluarnya mereka dari ketaatan pada Ali tatkala ia mengambil kebijakan At-Tahkim (arbitrase dengan pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin)2.

Khawarij melepaskan diri dari pasukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A dalam jumlah besar, sekembalinya mereka dari perang Shiffin menuju Kufah. Dalam sebuah riwayat, jumlah mereka diperkirakan mencapai belasan ribu orang, dan dalam riwayat lain disebutkan dua belas ribu orang3. Ada juga riwayat yang menyatakan delapan ribu orang4, dan ada pula yang menyatakn empat belas ribu orang5.

Mereka membelot dari pasukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A beberapa kilometer sebelum  sampai ke Kufah. Pembelotan ini menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan luar biasa di kalangan pasukan Amirul Mukminin. Akan tetapi Amirul Mukminin tetap menggerakkan pasukannya yang masih setia hingga memasuki Kuffah. Amirul Mukminin benar-benar disibukkan Khawarij, terlebih lagi setelah mengetahui mereka merapatkan barisan dan membangun sistem politik dengan mengangkat seorang imam shalat dan seorang panglima perang, dan menyatakan bahwa baiat (sumpah setia) hanyalah kepada Allah serta kewajiban menyuruh orang berbuat baik dan melarang orang berbuat mungkar. Itu semua mengindikasikan bahwa mereka benar-benar memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin.

Meskipun demikian, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib R.A senantiasa berupaya agar mereka kembali pada kebenaran dan bergabung lagi dengan jamaah kaum Muslimin. Untuk itulah, ia mendelegasikan Ibnu Abbas R.A untuk berdialog dengan mereka dan memberi mereka pencerahan. Ibnu Abbas R.A mengisahkannya kepada kita:

Aku berangkat untuk berdialog dengan mereka (Khawarij) sambil mengenakan pakaian terbaik dari Yaman. Turun dari kendaraan, aku berjalan kaki dan menemui mereka pada tengah hari di sebuah rumah. (Ibnu Abbas R.A. adalah lelaki yang tampan rupawan).

Khawarij: Selamat datang, wahai Ibnu Abbas. Pakaian apa itu?

Ibnu Abbas: Memangnya kenapa? Apakah kalian mencelaku? Aku benar-benar melihat Rasulullah SAW mengenakan pakaian yang paling bagus. Lagi pula, telah turun firman Allah: Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hambaNya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rizki yang baik?” (Al-A’raf: 32).

Khawarij: Baiklah, angin apa yang membawamu kemari?

Ibnu Abbas: Aku menemui kalian sebagai utusan para Sahabat Rasulullah, baik kaum Muhajirin maupun Anshar, juga utusan sepupu Rasulullah SAW sekaligus menantunya (Ali R.A). Adalah kepada mereka Al-Qur’an diturunkan; merekalah yang lebih mengetahui penafsirannya dibandingkan kalian; tidak seorangpun di antara kalian yang merupakan bagian dari mereka untuk kusampaikan kepada kalian pendapat mereka, dan kusampaikan kepada mereka pendapat kalian.

Sampai di sini,  sekelompok orang di antara mereka cenderung kepadaku.

Ibnu Abbas: Utarakanlah kepadaku alasan kalian membenci para sahabat Rasulullah SAW dan sepupunya Ali R.A.

Khawarij: Ada tiga alasan. Pertama, ia (Ali R.A) telah menyerahkan keputusan hukum kepada para tokoh ihwal agama Allah, padahal Allah SWT berfirman, “Menetapkan hukum itu hanya hak Allah.” (Al-An’am: 57). Apalah wewenang orang-orang itu terhadap keputusan hukum?”

Ibnu Abbas: Baiklah. Itu satu.

Khawarij: Kedua, ia berperang (dalam Perang Jamal) akan tetapi tidak  mengambil tawanan perang ataupun pampasan perang. Kalau mereka itu orang-orang kafir, tentulah mereka boleh dijadikan tawanan. Kalau mereka itu orang-orang Mukmin, tentulah tidak boleh ditawan ataupun dibunuh.

Ibnu Abbas: Itu baru dua.

Khawarij: Ketiga, ia telah menghapus jabatannya sebagai Amirul Mukminin (dalam dokumen perdamaian); jika ia bukan Amirul Mukminin, berarti ia Amirul Kafirin (pemimpin orang-orang kafir).

Ibnu Abbas: Apakah ada alasan selain ketiga hal itu?

Khawarij: Cukuplah tiga hal itu bagi kami.

Ibnu Abbas: Menurut kalian, apabila kubacakan dalil dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya yang membantah pendapat kalian, apakah kalian mau bertaubat dan kembali pada jalan yang benar?

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan keputusan hukum ihwal agama Allah yang diserahkan kepada para tokoh, aku membacakan ayat dari Kitabullah bahwa Allah SWT menyerahkan keputusan hukum-Nya kepada para tokoh ihwal barang seharga seperempat dirham. Allah SWT memerintahkan mereka untuk memutuskan hukum dalam hal itu. Tidakkah kalian mengetahui firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah bunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu.” (Al-Ma’idah:95)

Ibnu Abbas: Nah, itu termasuk hukum yang diputuskan para tokoh. Aku bersumpah demi Allah agar kalian menjawab, bukankah keputusan para tokoh ihwal perdamaian dan perlindungan darah kaum Muslimin jauh lebuh utama daripada perlindungan darah seekor kelinci?

Khawarij: Betul, itu lebih utama.

Ibnu Abbas: Juga, ihwal istri dan suaminya. Allah SWT berfirman, “Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan.” (An-Nisa’: 35)

Ibnu Abbas: Aku bersumpah demi Allah agar kalian menjawab, bukankah keputusan hukum para tokoh ihwal perdamaian dan perlindungan darah kaum Muslimin jauh lebih utama daripada keputusan hukum mereka ihwal talak seorang istri? Apakah aku sudah membantah alasan ini?

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan berperangnya ia (Ali R.A dalam perang Jamal) tanpa mengambil tawanan perang ataupun pampasan perang, apakah kalian hendak menjadikan ibunda kalian Aisyah R.A sebagai tawanan perang, lantas kalian menghalalkan darinya apa yang kalian halalkan dari orang lain, padahal ia adalah ibunda kalian? Jika kalian menjawab, “Kami menghalalkan darinya sebagaimana yang kami halalkan dari selainnya”, berarti kalian telah kafir. Jika kalian menjawab, “Ia bukanlah ibunda kami”, berarti kalian juga telah kafir. Allah berfirman: “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” Nah, kalian berada di antara dua kesesatan, maka berilah suatu jalan keluar dari kesesatan itu. Apakah aku sudah membantah alasan ini.

Khawarij: Ya.

Ibnu Abbas: Berkenaan dengan penghapusan jabatannya sebagai Amirul Mukminin (dalam dokumen perdamaian), kuberikan kalian dalil yang membantah kalian, yaitu ketika Nabi Muhammad SAW berdamai dengan orang-orang musyrik dalam perjanjian Hudaibiyah, beliau memerintahkan Ali, “Wahai Ali,  tulislah: Inilah perjanjian damai yang disepakati Muhammad utusan Allah”. Lantas orang-orang musyrik itu menukas, “Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah, tentulah kami tidak memerangimu.” Maka, Rasulullah SAW memerintahkan, “Hapuslah wahai Ali. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku ini benar-benar utusan Allah. Hapuslah wahai Ali, dan tulislah: Inilah perjanjian damai yang disepakati Muhammad putera Abdullah.” Demi Allah, Rasulullah SAW jauh lebih baik dari Ali, tetapi beliau menghapus dirinya sendiri (kata utusan Allah dalam dokumen perdamaian). Nah, penghapusan yang dilakukannya itu bukan berarti penghapusan status kenabian. Apakah aku sudah membantah alasan ini?

Khawarij: Ya.

Setelah dialog tersebut, sebanyak dua ribu orang di antara mereka kembali ke jalan yang benar, sedangkan yang lain tetap berperang berdasarkan kesesatan mereka. Akhirnya mereka ditumpas kaum Muhajirin dan Anshar6.

[1] Khawarij dan Syiah Dalam Timbangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Pustaka Al-kautsar, 2012.

[2] Maqalat Al-Islamiyyin, 1/207.

[3] Tarikh Baghdad, 1/160.

[4] Al-Bidayah wa An-Nihayah, 7/280/281, dan sanad hadits ini shahih. Lihat Majma’ Az-zawaid, 6/235.

[5] Mushannaf Abdurrazzaq, 10/157 dan 160, dengan sanad hasan.

[6] Khasha’ish Amir Al-Mu’minin Ali bin Abi Thalib R.A, karya An-Nasa’i, tahqiq Ahmad Al-Balusyi, hlm. 200, dengan sanad hasan.

Beauty

By Dr. Armein Z R Langi

July 19, 2009 in Life

Mengapa sehabis pesta, wanita cantik perlu membersihkan wajahnya dari bekas dandanan?  Kalau dandanan membuatnya cantik, mengapa harus dibersihkan?

Di meja hias wanita, kita bisa menemukan botol berisi cairan pembersih kulit dan wajah. Wanita pergi ke salon berdandan untuk pesta. Sehabis pesta dia pulang, dan ambil kapas, dibasahi dengan cairan pembersih, kemudian mengusapkannya sampai bersih, sebelum tidur.

Salon kecantikan selalu laku. Kita masuk ke situ, dan keluar menjadi cantik. Di dandani. Tapi syarat satu: jangan dibersihkan, jangan kena air, apalagi kena hujan. Saat selebriti cantik menangis di infotainment TV, air matanya mengalir, membawa serta dadanannya. Ia diterpa badai kehidupan. Di akhir tangisannya, wajahnya berubah terlihat menyeramkan.

Berbeda dengan kembang, misalnya. Saya perhatikan, tukang bunga justru membersihkan dan bahkan mencuci bunga-bunga sebelum dijual. Bunga seperti anggrek dan mawar semakin indah selesai dibersihkan. Bahkan salah satu foto kembang terindah adalah saat ia kena embun pagi. Berkilau.

Rupanya ada beda prinsip antara salon manusia dengan salon milik Tuhan. Salon manusia itu membuat kita tampak indah. Sementara. Artifisial. Ilusional. Salon milik Tuhan membuat kita menjadi indah. Menetap. Alamiah. Substansial.

Kalau kita sudah mencapai kecantikan Ilahi, maka hujan badai kehidupan ibarat proses tukang bunga, mencuci kita agar berkilau. Airmata, keringat dan terpaan hujan kesulitan menghapus noda dan debu yang menutupi kecantikan kita. Kecantikan kita menjadi cemerlang. Tetesan airmata bahkan menghiasi kita, seperti embun menghiasi mawar.

Hope you know how beautiful you areMade by God with love

source:

http://azrl.wordpress.com/2009/07/19/beauty-2/

Nation Mission-Critical

Dalam sebuah meeting yang saya ikuti, tercetus bahwa lembaga tempat saya sedang mengerjakan sebuah proyek saat ini memiliki aplikasi yang bersifat nation mission-ciritical.. wow menyeramkan..

Di sisi lain, dalam diskusi lainnya, tercetus sebuah pendapat bahwa perguruan tinggi “besar” di Indonesia sebenarnya bersifat nation mission-critical seperti ITB, UI, UGM, IPB, dan lain-lain..

Jadi apakah nation mission-critical itu?

Secara sederhana nation mission-critical adalah suatu entitas yang memiliki misi nasional kebangsaan dengan tingkat kritikal yang sangat tinggi apabila tidak berfungsi dengan baik..

Perguruan Tinggi sebagai sebuah kawah candradimuka bagi calon pemimpin suatu bangsa seharusnya disadari oleh pemerintah dan segenap anak bangsa ini menjadi sebuah lembaga dengan tingkat mission nation-critical di negara ini.

Konsekuensi apabila suatu entitas sudah ditetapkan sebagai nation mission-critical adalah tingkat perhatian dalam pengelolaan dan penjagaan keberlangsungan fungsionalnya menjadi prioritas utama bagi pemerintah..

Ibarat sebuah rumah, bagi saya, Perguruan Tinggi adalah salah satu tiang utama penegak berdirinya rumah bangsa negara ini.

Kapankah negara ini benar-benar menetapkan Perguruan Tinggi sebagai salah satu nation mission-critical negara?

Apa lagi nation mission-critical lainnya bagi negara kita ini?

Bagaimana menurut Anda?

Funny and Hilarious

A man is taking a walk in Central park in New York. Suddenly he sees a
little girl being attacked by a pit bull dog. He runs over and starts
fighting with the dog. He succeeds in killing the dog and saving the
girl’s life. A policeman who was watching the scene walks over and says:
“You are a hero,” tomorrow you can read it in all the newspapers: “Brave
New Yorker saves the life of little girl.” The man says: “But I am not a
New Yorker!” “Oh, then it will say in newspapers in the morning: Brave
American saves life of little girl” – the policeman answers. “But I am
not an American!” – says the man. “Oh, what are you then?” The man says:
“I am a Saudi!” Then next day the newspapers say: “Islamic extremist
kills innocent American dog.”

Another Gates

Oleh: Armen Z R Langi

Semua tahu Bill Gates yang berhasil itu. Tapi tidak banyak yang mengenal Michael Gates Gill, yang berhasil mengubah hidupnya dari marketing executives dengan gaji jutaan dollar menjadi pelayan Starbucks.

Semula Gill adalah seorang eksekutif sukses J Walter Thompson. Duapuluh enam tahun dia bekerja di perusahaan ini. Client nya termasuk label-label top seperti Ford dan Christian Dior. Hidupnya mewah, dengan gaji jutaan dollar.

Sampai suatu hari di usia 63 tahun, ia dipanggil pimpinan perusahaan. Dia di PHK. Alasannya sederhana. Gajinya kemahalan. Ada banyak eksekutif muda yang mau bekerja dengan separuh harga.

Ini di usia 63 tahun. Tidak muda lagi. Dan kesusahannya kemudian datang beruntun. Dengan uang tabungannya dia membuka perusahaan sendiri. Bangkrut. Kemudian istrinya minta cerai. Ia didiagnosa terkena penyakit kanker otak. Dia merasa hidupnya hancur.

Ia terlantar. Hari-hari dia berjalan sendiri menyusuri New York dan cuma bisa menangis.

Sampai suatu pagi, dia duduk di sebuah Starbucks, dan menghirup kopinya. Seorang manager menghampirinya dan menawarkan apakah dia mau bekerja sebagai pelayan. Gaji 10$/jam. Dan dia bilang “ya”.

Itu lima tahun lalu.

Sekarang ia sudah trampil bekerja. Kalau tidak melayani tamu, dia membersihkan lantai. Dan toilet Starbucks bisa mengkilat. Dia sendiri tinggal di sebuah apartemen kecil di atap sebuah rumah tua. Lima menit dari sebuah mansion mewah dengan 25 kamar, tempat tinggalnya dulu.

Tapi hidupnya penuh kegembiraan.

Gill kehilangan pekerjaannya. Tapi karena itu dia menemukan kehidupannya. Dia bilang, “I may have a part-time job, but I have a full-time life.” Dan untuk menopang hidupnya yang gembira itu, dia mencukupkan upah pelayan Starbucks itu.

Pengalaman ini ditulisnya menjadi sebuah buku yang menginspirasi banyak orang yang terkena PHK. Buku ini menjadi best seller saat ini.

Read more: cnn.com

Khalifah Umar ibnul Khaththab

Ia adalah Amirul Mu’minin Umar ibnul Khaththab. Dijuluki oleh ­Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan al-Faruq karena ia membedakan antara yang hak dan yang batil. Ia dibaiat menjadi khalifah ­pada hari kematian Abu Bakar ash-Shidiq. Selama masa khalifahnya, ia ­melakukan tugasnya dengan baik seperti halnya sirah, jihad, dan ­kesabaran Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Dengan Umar ibnul Khaththab Allah memuliakan Islam.

Hal pertama yang dilakukannya setelah menjabat sebagai khalifah ialah mencopot Khalid bin Walid dari jabatan sebagai komandan pasukan dan menggantinya dengan Abu Ubaidah.

Ia ikut menyaksikan penaklukan Baitul Maqdis dan tinggal di sana selama sepuluh hari. Ia kemudian kembali ke Madinah dengan ­membawa serta Khalid bin Walid. Tatkala Khalid bin Walid menanyakan ­perlakuan Umar terhadap dirinya, Umar Radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Demi Allah! Wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat kumuliakan dan sangat kucintai.”

Umar kemudian menulis surat ke berbagai negeri dan wilayah ­menyatakan kepada mereka,
“Sesungguhnya, aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tidak pula karena pengkhianatan, tetapi aku memecatnya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan serangan-­serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya.”

Khalid bin Walid merupakan seorang putra dari bibinya Umar. Ia meninggal pada masa Khalifah Umar di Hamat.

Damakus berhasil ditaklukkan dengan dua cara, damai dan kekerasan. Adapun Hamsh dan Ba’albak ditaklukkan secara damai. Bashrah dan Aballah ditaklukkan dengan cara kekerasan. Semua penaklukkan ini terjadi pada tahun 14 Hijriah.

Di tahun ini pula Umar menghimpun orang-orang untuk shalat tarawih berjamah dua puluh rakaat.

Pada tahun 15 Hijriah, Yordania secara keseluruhan berhasil ditaklukkan melalui kekerasan kecuali Thabriah yang ditundukkan dengan damai. Pada tahun ini terjadi pula perangYarmuk dan Qadisiah. Berkata Ibnu Jurair di dalam Tarikh-nya, “Pada tahun ini, Sa’ad mem­bangun Kufah, Umar menentukan sejumlah kewajiban, membentuk diwan-diwan, dan memberi pemberian berdasarkan senioritas dalam memasuki Islam.

Pada tahun 16 Hijriah, al-Ahwaz dan Mada’in ditaklukkan. Di kota ini, Sa’ad menyelenggarakan shalat Jum’at, bertempat di Istana Kisra. Ini merupakan shalat Jum’at berjamah yang pertama diadakan di Irak.

Umar meminta pendapat para sahabat termasuk Ali Radhiyallahu ‘anhu untuk keluar memerangi Persia dan Romawi, lalu Ali Radhiyallahu ‘anhu mengemukakan pendapatnya, “Sesungguhnya, masalah ini (peluang) menang dan kalahnya tidak banyak dan juga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkan-Nya dan tentara-Nya yang dipersiapkan-Nya dan disebarkan-Nya hingga ke tempat yang telah dicapainya …. Posisi pemerintah (penguasa) bagaikan posisi benang dalam mata rantai biji tasbih. Jika benang itu putus, biji-biji tasbih itu akan berantakan dan hilang …. Jadilah poros dan putarlah roda dengan bangsa Arab …. “

Di tahun yang sama (16 H), terjadi pula Perang Jalaula’. Yazdasir putra Kisra berhasil dikalahkan. Takrit berhasil ditaklukkan. Umar berangkat berperang kemudian menaklukkan Baitul Maqdis dan menyampaikan khotbahnya yang sangat terkenal di al-Jabiah. Pada tahun ini juga, Qanasrin ditaklukkan dengan kekerasan. Haleb, Anthokiah, dan Manbaj ditundukkan bukan secara damai. Pada bulan Rabi’ul Awwal tahun ini, Umar menulis kalender Hijriah dengan meminta pertimbangan Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Tahun 17 Hijriah, Khalifah Umar memperluas Masjid Nabawi. Kemarau panjang terjadi sehingga beliau mengajak penduduk untuk shalat minta hujan. Dengan perantaraan do’a Abbas, hujan pun turun. Ibnu Sa’ad meriwayatkan bahwa Umar keluar untuk shalat meminta hujan; ia mengenakan selendang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Pada tahun ini pula, al-Ahwaz ditaklukkan secara damai.

WABAH THA’UN

Pasukan kaum Muslimin yang tengah berada di Syam mendapat musibah wabah tha’un pada tahun 12 Hijriah. Setelah mendengar berita ini, Umar yang tengah menuju Madinah berkeinginan untuk kembali lagi ke Syam. Beliau lalu meminta pendapat para sahabatnya. Menang­gapi masalah ini, pada mulanya para sahabat berselisih pendapat, tetapi kemudian Abdurrahman bin Auf datang seraya memberitakan bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Apabila kalian mendengar terjadinya suatu wabah di suatu negeri, janganlah kalian datang ke negeri tersebut. Dan apabila terjadi wabah di suatu negeri, sedangkan kalian tengah berada di negeri tersebut, janganlah kalian keluar melarikan diri dari sana. “

Karena itu, Umar kembali lagi ke Madinah.

Pada tahun 19 Hijriah, Qisariah ditaklukkan dengan kekerasan. Tahun berikutnya, 12 Hijriah, Mesir ditundukkan dengan kekerasan. Dikatakan bahwa Mesir secara keseluruhan ditaklukkan secara damai kecuali Iskandariah. Di tahun ini pula, Maroko ditaklukkan dengan kekerasan. Kaisar Agung Romawi binasa pada tahun yang sama. Khalifah Umar mengusir Yahudi dari Khaibar dan Najran.

Tahun 21 Hijriah, Iskandariah dan Nahawand ditaklukkan melalui kekerasan sehingga orang-orang ‘ajam tidak memiliki kekuatan terorganisir lagi. Tahun 22 Hijriah, Adzerbaijan ditaklukkan dengan kekuatan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa negeri ini ditaklukkan dengan cara damai. Pada tahun ini pula, Dainur, Hamdan, Tripoli Barat, dan Rayyi ditaklukkan melalui kekuatan. Pada tahun ke­ 23 Hijriah, sisa-sisa negeri Persia ditaklukkan: Kroman, Sajistan, Ashbahan, dan berbagai pelosoknya. Pada akhir tahun ini, Khalifah Umar menunaikan ibadah haji. Sa’id bin Musayyab berkata, “Setelah nafar (berangkat) dari Mina, Umar singgah di Abthakh kemudian duduk bersila dan mengucapkan do’a seraya mengangkat kedua tangannya,

“Ya Allah, usiaku telah lanjut, kekuatanku telah mulai lemah, rakyatku telah tersebar luas. Karenanya, panggillah aku kepada­Mu tanpa ada kewajiban yang aku sia-siakan atau amalan yang melewati batas.”

Pada penghujung bulan Dzulhijjah tahun ini, Umar ibnul Khaththab syahid terbunuh.

Bukhari meriwayatkan dari Aslam bahwa Khalifah Umar pernah berdo’a,
“Ya Allah, karuniailah aku mati syahid di jalan-Mu dan jadikan­lah kematianku di negeri Rasul-Mu.”

TERBUNUHNYA KHALIFAH UMAR

Orang yang membunuh Umar adalah seorang Majusi bernama Abdul Mughirah yang biasa dipanggil Abu Lu’lu’ah. Disebutkan bahwa ia membunuh Umar karena ia pernah datang mengadu kepada Khalifah Umar tentang berat dan banyaknya kharaj (pajak) yang harus dia keluarkan, tetapi Khalifah Umar menjawab, “Kharajmu tidak terlalu banyak.” Dia kemudian pergi sambil menggerutu, “Keadilannya men­jangkau semua orang kecuali aku.” Ia lalu berjanji akan membunuhnya. Dipersiapkanlah sebuah pisau belati yang telah diasah dan diolesi dengan racun -orang ini adalah ahli berbagai kerajinan- lalu disimpan di salah satu sudut masjid. Tatkala Khalifah Umar berangkat ke masjid seperti biasanya menunaikan shalat subuh, langsung saja ia menyerang. Dia menikamnya dengan tiga tikaman dan berhasil merobohkannya. Kemudian setiap orang yang berusaha mengepung dirinya diserangnya pula. Sampai ada salah seorang yang berhasil menjaringkan kain kepadanya. Setelah melihat bahwa dirinya terikat dan tidak bisa ber­kutik, dia membunuh dirinya dengan pisau belati yang dibawanya.
Itulah berita yang disebutkan para perawi tentang pembunuhan Umar Radhiyallahu ‘anhu. Barangkali di balik peristiwa pembunuhan ini terdapat konspirasi yang dirancang oleh banyak pihak di antaranya orang-orang Yahudi, Majusi, dan Zindiq. Sangat tidak mungkin per­buatan kriminal ini dilakukan semata-mata karena kekecewaan pribadi karena banyaknya kharoj yang harus dikeluarkannya. Wallahu a’lam.

Ketika diberitahukan bahwa pembunuhnya adalah Abu Lu’lu’ah, Khalifah Umar berkata, “Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan kematianku di tangan orang yang mengaku Muslim.” Umar kemudian berwasiat kepada putranya, “Wahai Abdullah, periksalah utang-­utangku!”

Setelah dihitung, ternyata Umar mempunyai utang sejumlah 86.000 dirham. Khalifah Umar lalu berkata, “Jika harta keluarga Umar sudah mencukupi, bayarlah dari harta mereka. Jika tidak mencukupi, pintalah kepada bani Addi. Jika harta mereka juga belum mencukupi, mintalah kepada Quraisy.” Selanjutnya Umar berkata kepada anaknya, “Pergilah menemui Ummul Mu’minin Aisyah! Katakan bahwa Umar meminta izin untuk dikubur berdampingan dengan kedua sahabatnya (maksudnya Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu).” Mendengar permintaan ini, Aisyah Radhiyallahu ‘anha menjawab, “Sebetulnya tempat itu kuinginkan untuk diriku sendiri, tetapi biarlah sekarang kuberikan kepadanya.” Setelah hal ini disampaikan kepadanya, Umar langsung memuji Allah.

Umar Menunjuk Salah Seorang Dari Ahli Syura

Sebagian sahabat berkata kepada Umar, “Tunjuklah orang yang engkau pandang berhak menggantikanmu.” Umar kemudian menjadi­kan urusan ini sepeninggalnya sebagai hal yang disyurakan antara enam orang, yaitu Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf Radhiyallahu ‘anhum. Umar berkeberatan menunjuk salah seorang di antara mereka secara tegas. Selanjutnya Umar berkata, “Saya tidak menanggung urusan mereka semasa hidup ataupun sesudah mati. Jika Allah menghendaki kebaikan buat kalian, Allah akan menghimpun urusan kalian pada orang yang terbaik di antara mereka sebagaimana Allah telah menghimpun kalian pada orang yang terbaik di antara kalian sesudah Nabi kalian.”

Dengan demikian, Umar merupakan orang pertama yang membentuk “tim” dari para sahabat dan dinamakan dengan Ahli Syura kemudian menyerahkan urusan khalifah sepeninggalnya kepadanya. Dengan demikian, mereka ini merupakan “Lembaga Politik” tertinggi dalam pemerintahan.

Bagaimana berlangsungnya pemilihan Utsman?

Ahli Syura yang telah ditunjuk oleh Umar tersebut mengadakan pertemuan di salah satu rumah guna membahas masalah ini. Sementara itu,Thalhah berdiri di pintu rumah guna menjaga dan melarang orang-­orang untuk memasuki pertemuan tersebut. Dalam syura diperoleh kesepakatan bahwa tiga orang di antara mereka telah menyerahkan masalah khalifah kepada tiga orang lainnnya. Zubair menyerahkannya kepada Ali, Sa’ad menyerahkannya kepada Abdurrahman bin Auf, sedangkan Thalhah memberikan haknya kepada Utsman bin Affan.

Abdurrahman bin Auf berkata kepada Utsman dan Ali, “Siapa­kah di antara kalian berdua yang melepaskan diri dari perkara ini maka kepadanya akan kami serahkan!” Keduanya diam tidak mem­berikan jawaban. Abdurrahman lalu berkata, “Sesungguhnya, aku meninggalkan hakku terhadap perkara ini dan merupakan kewajibanku kepada Allah dan Islam untuk berusaha guna mengangkat orang yang paling berhak di antara kalian berdua.” Keduanya menjawab, “Ya.” Abdurrahman bin Auf kemudian berbicara kepada masing-masing dari keduanya sambil menyebutkan keutamaan yang ada pada keduanya. Ia lalu mengambil janji dan sumpah, “Bagi siapa yang diangkat, ia harus berlaku adil dan siapa yang dipimpin harus mendengar dan taat.” Keduanya menjawab, “Ya.” Mereka kemudian berpisah.

Setelah itu, Abdurrahman bin Auf meminta pendapat dari khalayak ramai tentang kedua orang (calon khalifah) ini, sebagaimana ia juga meminta pandangan dari para tokoh dan pimpinan mereka, baik secara bersamaan maupun terpisah, dua-dua, sendiri-sendiri, atau berkelompok, secara sembunyi ataupun terang-terangan. Bahkan kepada para wanita yang bercadar, anak-anak di berbagai perkantoran, orang-orang Arab Badui, dan para pendatang yang datang ke Madinah. Proses (hearing) ini dilakukannya selama tiga hari tiga malam sampai akhirnya didapat kebulatan suara yang menghendaki agar Utsman bin Affan didahulukan kecuali dua orang, yaitu Ammar bin Yassir dan Miqdad, yang menghendaki agar Ali didahulukan, tetapi kemudian kedua orang ini bergabung kepada pendapat mayoritas.

Pada hari keempat, Abdurahman bin Auf mengadakan perte­muan dengan Ali dan Utsman di rumah anak saudara perempuannya, Musawwir bin Makhramah. Dalam pertemuan ini, Abdurahman bin Auf menjelaskan, “Setelah kutanyakan pada orang-orang tentang Anda berdua, kudapati tidak seorang pun di antara mereka yang menolak Anda berdua.” Abdurahman bin Auf kemudian keluar bersama keduanya menuju masjid dan mengundang orang-orang Anshar dan Muhajirin sampai mereka berdesakan di masjid. Abdurahman bin Auf naik ke mimbar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyam­paikan pidato dan berdo’a panjang sekali. Dalam pidatonya itu, ia mengatakan,

“Wahai manusia, sesungguhnya aku telah menanyakan kepada kalian secara tersembunyi dan terang-terangan tentang orang yang paling kalian percaya dapat mengemban amanat (khalifah), lalu aku tidak melihat kalian menghendaki selain dari kedua orang ini, Ali atau Utsman. Karenanya, berdirilah dan kema­rilah, wahai Ali.”

Setelah Ali berdiri dan mendekatinya, Abdurrahman bin Auf menjabat tangan Ali seraya berkata, “Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?” Ali menjawab, “Tidak, tetapi sesuai usaha dan kemampuanku untuk itu.”

Abdurrahman kemudian melepas tangannya lalu berkata, “Berdirilah dan kemarilah, wahai Utsman. Ia kemudian menjabat tangan Utsman seraya berkata, “Apakah kamu berbaiat kepadaku (untuk memimpin) atas dasar Kitab Allah, Sunnah Nabi-Nya, perbuatan Abu Bakar dan Umar?” Utsman menjawab, “Ya.”

Abdurrahman kemudian mengangkat kepalanya ke arah atap masjid dan meletakkan tangannya di tangan Utsman seraya berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku telah melepaskan amanat yang terpikulkan di atas tengkukku dan telah kuserahkan ke atas tengkuk Utsman.” Orang-orang pun kemudian berdesakan membaiat Utsman di bawah mimbar. Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah orang yang pertama membaiatnya. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Ali merupakan orang yang terakhir membaiatnya.

Beberapa Ibrah

Pertama, telah kita ketahui bahwa tindakan pertama yang dila­kukan oleh Umar Radhiyallahu ‘anhu adalah memecat Khalid bin Walid. Kebanyakan penulis kontemporer telah melakukan kesalahan dalam menanggapi masalah pemecatan ini. Mereka menjadikannya bahan untuk menggugat kedudukan Khalid, padahal penafsiran dari pemecatan ini dapat dilihat dengan jelas dalam tindakan Umar sendiri dalam ucapan yang diucapkan tentang Khalid dan dalam pujian yang disampaikannya kepada Khalid. Seperti telah kami sebutkan, Umar berkata kepada Khalid,

“Demi Allah, wahai Khalid, sesungguhnya engkau sangat ku­muliakan dan sangat kucintai.” Umar kemudian menulis surat ke berbagai wilayah, menjelaskan sebab pemecatan Khalid bin Walid, “Sesungguhnya, aku tidak memecat Khalid karena kebencian dan tiduk pula karena pengkhianatan, tetapi aku memecat­nya karena mengasihani jiwa-jiwa manusia dari kecepatan se­rangan-serangannya dan kedahsyatan benturan-benturannya. “

Ketika diberi tahu tentang sakitnya Khalid, Khalifah Umar yang waktu itu berada di suatu tempat langsung pergi ke tempat Khalid di Madinah dengan menempuh perjalanan selama semalam, padahal biasanya ditempuh selama tiga hari. Ketika Umar tiba di tempat tersebut, Khalid sudah wafat, lalu Umar mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,” dengan penuh kesedihan. Umar kemudian duduk di pintu rumah Khalid sampai selesai pengurusan jenazahnya. Ketika kematiannya ditangisi oleh sejumlah wanita lalu dikatakan kepada Umar, “Tidakkah engkau mendengarnya? Mengapa engkau tidak melarang mereka?” Umar menjawab, “Tidaklah apa-apa wanita-wanita Quraisy menangisi Abu Sulaiman selama tidak meratapi dan bukan karena kecemasan.”

Ketika mengantar jenazahnya, Umar melihat seorang wanita Muslimah menangisinya. Umar lalu bertanya, “Siapa orang ini?” Dika­takan kepadanya, “Ibunya.” Umar berkata penuh keheranan, “Ibunya? Itu sungguh mengagumkan (tiga kali)!” Umar kemudian berkata, “Apakah wanita lain yang melahirkan orang seperti Khalid?”

Kedua, teks yang kami sebutkan di atas menegaskan bahwa Khalid meninggal dan dikebumikan di Madinah. Ini merupakan pen­dapat sebagian ahli sejarah. Akan tetapi, jumhur memandang bahwa sebenarnya Khalid meninggal dan dikuburkan di Hamsh (Suriah). Pendapat yang terakhir inilah yang dikuatkan oleh Ibnu Katsir di dalam al-Bidayah wan-Nihayah. Sebab, menurut riwayat yang kuat, setelah dipecat oleh Umar, Khalid melakukan ibadah umrah kemudian kembali ke Syam dan menetap di Syam sampai meninggal pada tahun 21 Hijriah.

Demikianlah sikap Umar yang selalu memuji Khalid, baik di waktu masih hidup maupun sesudah kematiannya. Ibnu Katsir meriwa­yatkan dari al-Wakidi bahwa Umar pernah melihat rombongan haji datang dari Hamsh lalu ia bertanya, “Adakah berita yang harus kami ketahui?” Mereka menjawab,”Ya, Khalid telah wafat.” Umar kemudian mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,’ lalu berkata, “Demi Allah, ia sangat mahir dan tepat menebas tengkuk-tengkuk musuh. Ia adalah seorang tokoh yang tepercaya.”
Pujian Umar kepada Khalid tersebut tidak bertentangan dengan sebagian sikap yang bersifat ijtihadiah yang memungkinkan terjadinya perbedaan antara keduanya kemudian masing-masing dari keduanya bertindak sesuai pandangan yang diyakininya.

Sebaiknya mereka yang menggugat kedudukan Khalid karena sikap Umar terhadapnya atau orang-orang yang menggugat kedudukan Umar karena sikap tersebut, mereka memahami permasalahan dari segala seginya dan membedakan antara sikap ijtihadiah yang dijamin mendapat pahala betapapun hasilnya dan penyimpangan pemikiran atau perilaku yang tidak mungkin dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga, di antara hal paling menonjol yang dapat dicatat oleh setiap orang yang memperhatikan Khalifah Umar ialah kerja sama yang bersih dan istimewa antara Umar dan Ali Radhiyallahu ‘anhum. Dalam khilafah Umar, Ali menjadi mustasyar awwal (penasihat pertama) bagi Umar dalam semua persoalan dan problematika. Setiap kali Ali mengusulkan suatu pendapat, Umar selalu melaksanakannya dengan penuh kerelaan sehingga Umar pernah berkata, “Seandainya tidak ada Ali, niscaya Umar celaka.”

Ali bin Abu Thalib dengan penuh keikhlasan dan kecintaan memberikan nasihat kepadanya dalam segala urusan dan persoalan. Seperti Anda ketahui bahwa Umar pernah meminta pendapatnya tentang keinginannya untuk berangkat sendiri memimpin pasukan guna memerangi orang-orang Persia, kemudian Ali menasihatinya dengan suatu nasihat yang mencerminkan kecintaannya kepada Umar. Ali menasihatinya supaya tidak berangkat, tetapi cukup dengan meng­gerakkan roda peperangan dengan orang-orang Arab yang ada di bawah kekuasaannya. Diperingatkannya, jika ia berangkat, hal itu niscaya akan menimbulkan berbagai peluang yang lebih berbahaya daripada musuh yang akan dihadang-Nya itu sendiri.

Seandainya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menge­mukakan bahwa khilafah sesudahnya harus diserahkan kepada Ali Radhiyallahu ‘anhu, apakah mungkin Ali Radhiyallahu ‘anhu akan berpaling dari perintah Rasulullah tersebut dan mendukung orang-orang yang merampas haknya atau merampok kewajibannya dalam memegang khilafah dengan dukungan kerja sama yang demikian ikhlas dan konstruktif? Mungkinkah seluruh sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengabaikan perintah Rasulullah tersebut? Mungkinkah semua sahabat itu telah bersepakat -terutama Ali- untuk tidak melak­sanakan perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tersebut?

Keempat, sebagaimana khilafah Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu datang pada saat yang tepat, di mana tidak layak pada saat itu kecuali Abu Bakar, demikian pula khilafah Umar. Beliau menjadi orang yang paling tepat untuk memegang khilafah pada saat itu. Di antara hal yang paling mulia yang pernah dilakukan Abu Bakar ialah mengokohkan kembali Islam sebagai bangunan dan negara serta keyakinan di dalam jiwa, setelah terjadinya keguncangan menyusul kematian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal paling agung yang pernah dilakukan Umar ialah memperluas futuhat Islamiyah ke ujung negeri-negeri Per­sia, Syam, dan Maghrib (Maroko). Membangun negeri-negeri Islam, membentuk berbagai diwan, dan mengokohkan pilar-pilar negara Islam sebagai negara peradaban yang paling kuat di permukaan bumi.
Ini menunjukkan sejauh mana hikmah Allah dalam memelihara para hamba-Nya dan mewujudkan sarana kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Kelima, kami mengatakan tentang cara pemilihan Khalifah Utsman sebagaimana yang telah kami katakan tentang Khalifah Umar. Menunjuk seorang pengganti dalam kekhalifahan (al-‘ahdu bil-khalifah) merupakan proses yang ditempuh untuk Khalifah Umar dan Utsman. Perbedaan antara keduanya bahwa Abu Bakar menunjuk Umar secara langsung, sedangkan Umar menunjuk seorang penggantinya di antara enam orang yang menjadi anggota Majelis Syura kemudian menyerah­kan pemilihannya kepada kaum Muslimin.

Seperti telah Anda ketahui, pemilihan Utsman di antara enam orang yang diajukan tersebut berlangsung dengan musyawarah dari keenam orang itu sendiri, kemudian dengan musyawarah dan baiat kaum Muslimin atau Ahlul Halli wal-‘Aqdi. Ali Radhiyallahu ‘anhu adalah salah seorang di antara enam orang yang ditunjuk dan merupakan orang yang pertama membaiat Utsman Radhiyallahu ‘anhu.

Dengan demikian, kita mengetahui secara gamblang bahwa kaum Muslimin sampai periode ini masih merupakan satu jamaah. Tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang mempermasalahkan urusan khilafah atau mempertanyakan siapakah orang yang paling berhak memegangnya? Yang ada hanyalah proses musyawarah dan pembahasan dalam setiap tuntutan untuk memilih khalifah secara syar’i dan sehat.

Apa pun usaha yang Anda kerahkan, sesungguhnya Anda tidak akan dapat menemukan, pada seluruh periode ini (khilafah Abu Bakar, Umar dan Utsman), adanya perdebatan atau diskusi tentang al-Qur’an atau Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjuk ataukah tidak. Anda pun tidak akan menemukan kritik atau tindakan menya­lahkan cara yang ditempuh dalam proses pengangkatan ketiga khalifah tersebut.

Lalu, kapan dan atas dorongan apa terjadinya perpecahan yang telah memecah belah jamaah Muslimin menjadi dua kubu yang ber­tentangan karena masalah khilafah, padahal selama tiga periode khilafah, mereka hidup bersatu dan bekerjasama secara rapi?
Masalah ini akan kami sebutkan tatkala membahas Khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa beliau.

sumber:

http://kisahislam.com/siroh-khulafaur-rosyidin/92-khalifah-umar-ibnul-khaththab

Aku Pilih Allah

Oleh: Asfuri Bahri, Lc

Wahai ayahanda, kalau bukan karena surga, tentu aku akan lebih mendahulukanmu (Sa’ad bin Khaitsumah)

Kata-kata itu terlontar dari seorang anak kepada ayahnya. Ungkapan itu bukanlah bentuk ketidaksopanan anak terhadap orang tuanya. Itulah ungkapan keimanan akan sebuah keyakinan terhadap sebuah pilihan yang besar di sisi Allah.

Kemenangan besar selalu didahului oleh kemenangan-kemenangan kecil. Dalam sejarah kemenangan kaum muslimin di medan pertempuran, terdapat pernik-pernik kisah kemenangan yang dialami masing-masing individunya. Kemenangan mengatasi hawa nafsu, ketakutan, kegamangan, kemenangan menghadapi tekanan dan teror keluarga dan masyarakat, kemenangan dari sisi moral, dan kemenangan menata hati menjadikan niat perjuangannya hanya untuk mendapat karunia Allah. Bahkan kemenangan-kemenangan kecil itu menjadi prasyarat bagi turunnya kemenangan besar.

Kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar, misalnya. Didahului oleh kemenangan individunya dalam mengatasi diri dan hawa nafsunya sendiri. Adanya tanafus (kompetisi) dalam mengejar kemenangan akhirat. Hingga Allah, melalui para malaikat-Nya, terlibat langsung dalam pertempuran besar itu. Dan tentu malaikat tidak akan turun kalau mereka (para sahabat) tidak layak mendapatkan pertolongan itu. Sesungguhnya kemenangan kecil inilah inti kemenangan.

Ada yang tercecer dari kisah sukses perang Badar. Di sebuah rumah di Madinah terdapat dialog indah antara Khaitsumah bin Al-Harits dengan anaknya, Sa’ad. Bertemakan tentang tantangan yang dihadapi Islam yang berasal dari orang-orang jahiliyah dan Yahudi.

Tiba-tiba Khaitsumah menghentikan dialognya dan memasang kedua telinganya untuk memperhatikan sayup-sayup suara dari kejauhan. Sia-sia, kedua telinga rentanya tidak sanggup menangkap suara itu. Serta-merta ia pun meminta putranya untuk mengendus berita dari suara sayup itu. Untuk kemudian menyampaikannya kepada sang Bapak.

Sa’ad segera berhambur keluar merespon permintaan bapaknya. Dan tidak lama setelah itu ia kembali dengan wajah berseri-seri menuju tempat penyimpanan senjatanya. Pedangnya segera dikalungkan ke pundaknya dan bersiap-siap keluar. Khaitsumah terbengong-bengong menyaksikan ulah anaknya yang diperintahkan untuk mencari berita itu. Ternyata Sa’ad lupa menyampaikan berita kepada ayahnya.

Khaitsumah bangkit dari duduknya dan menghadang jalan anaknya.

“Anakku, aku yang memerintahkanmu untuk mencari berita. Eh, tiba-tiba kamu sekarang mengenakan senjata dan hendak pergi tanpa menyampaikan kepadaku tentang apa sesungguhnya yang terjadi.”

Dengan merasa bersalah terhadap sikapnya Sa’ad berkata, “Maaf ayah, seruan Rasulullah membuatku sibuk sendiri dan melupakanmu. Beliau menyerukan kepada kita untuk berangkat perang. Aku pun segera menyambut seruan beliau, ayahanda.”

Khaitsumah terdiam sejenak lalu berkata, “Sebentar, anakku. Apakah menurutmu, kamu lebih layak untuk berangkat bersama Rasulullah daripada diriku? Aku, demi Allah, sangat berhasrat untuk berangkat bersama beliau ke medan tempur. Di samping itu, di rumah ini harus ada orang laki-laki yang menjaga para wanita, ibu dan saudari-saudarimu. Kamulah yang menjaga mereka, Sa’ad. Dan biarlah aku yang berangkat bersama Rasulullah.”

“Tidak ayah. Tidak ada yang bisa membuatku duduk-duduk di sini tanpa terlibat dalam pertempuran bersama Rasulullah. Kalau ayah ingin keluar, berangkat saja. Ada Allah yang menjaga wanita-wanita di rumah ini.”

Sang Ayah yang tua renta itu pun terus meminta kepada anaknya, “Anakku, aku ini sudah tua. Sementara kamu masih banyak memiliki kesempatan untuk berangkat bersama Rasulullah. Perang kali ini kiranya bukan perang terakhir bersama Rasulullah. Utamakan aku dulu yang pergi, Sa’ad. Dan kamu yang menjaga para wanita kita.”

Sa’ad diam sejenak lalu ia berkata kepada ayahnya, “Ayahanda. Tidak ada keinginanku di dunia ini kecuali aku selalu mengutamakan engkau. Kali ini tidak, ayahanda. Ini masalah surga. Demi Allah, kalau bukan surga, tentu aku lebih mengutamakan engkau.”

Dialog pun berlangsung tanpa ada ujung pangkal. Panah-panah argumentasi saling dilepaskan untuk mengalahkan yang lain. Namun semuanya berseliweran tanpa menemui sasarannya. Lalu pada akhirnya anak panah Sa’ad yang berhasil mengenai sasarannya dan Khaitsumah yang mengalah. Sa’ad memeluk ayahnya dan mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya.

Setelah itu hari-hari berlalu hampa tanpa kehadiran Sa’ad di rumah Khaitsumah. Orang tua itu tak henti-hentinya berdoa untuk putranya agar dikaruniai syahadah atau kemenangan.

Beberapa hari kemudian berita tentang kecamuk perang Badar tersebar di mana-mana; kemenangan yang dicapai, harta rampasan perang, dan orang-orang yang gugur sebagai syuhada. Di antaranya berita tentang gugurnya Sa’ad putra Khaitsumah.
“Inna lillahi wa inna ilahai raji’un. Kamu membenarkan Allah, hai Sa’ad, maka Allah pun membenarkanmu. Aku berharap kiranya kamu mendapatkan surga.”
Kejujuran iman kepada Allah yang melahirkan pembenaran terhadap semua janji-Nya. Tidak ada keraguan. Tidak hendak menunda mendapatkan janji itu. Tidak boleh ada yang menghalangi mendapatkan janji itu. Meskipun ayah sendiri yang selama ini ia telah banyak mengalah dalam urusan dunia, sebagai bakti seorang anak kepada orang tuanya.
“Demi Allah, kalau bukan surga, tentu aku lebih mengutamakan engkau.”
Kejujuran iman melahirkan rasa rindu yang membuncah begitu kuat terhadap surga. Ia menjadi energi besar yang dengannya seseorang dapat mengatasi segala rintangan, sebesar apapun dan sedekat apapun.

Betapa perlunya kita menata hati dan menghadapkannya kepada Allah semata. Saat kita beramal, berkata, bahkan diam. Janji-janji Allah selalu terngiang di balik setiap amal hingga memacu laju dan menguatkan tekad. Karena seorang mukmin selalu menjadikan kalkulasi ukhrawi sebagai motivasi amalnya.

As-Shidqu ma’a Allah (jujur kepada Allah) senantiasa kita butuhkan dalam menghadapi berbagai kondisi. Sifat ini yang membuat seorang mukmin senantiasa komitmen terhadap janjinya kepada Allah. Di waktu mudah dan lapang ia tidak terlena dengan berbagai kemudahan itu dan meninggalkan jiddiyah dalam amal. Di waktu sempit dan susah, konflik dan fitnah, ia juga tetap tegar di jalan Allah setia dengan komitmennya untuk memberikan loyalitasnya kepada Allah, Rasul, dan orang-orang beriman. Wallahu A’lam

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.